Skip to main content

SOROF BAGI PEMULA BAB IV: BINA' MAHMUZ

Bina’ Mahmuz
a. Pengertian.
i. Bina’ mahmuz adalah kalimah yang salah satu huruf asalnya berupa huruf hamzah.
مَــاالْهَمْــزُ فِى اُصُوْلِـهِ وَحُـكْمُـهُ اِنْ شِـئْتَ مَهْمُوْزًا فَذَاكَ رَسْمُـــهُ
جَاعِنْدَهُـمْ حَرْفًا صَحِيْحًافِى الْأَسَدْ حُكْمُ الصَّحِيْحِ أَىْ لِأَنَّ الْهَمْزَ قَدْ
Contoh: وَأَبَ,  وَأَمَ.
ii. Bina’ mahmuz adalah kalimah yang salah satu dari fa’, ‘ain, atau lam fi’ilnya berupa huruf hamzah. 
نَحْوُ قَرَا سَأَلَ قَبْلَ مَا أَفَلْ مَهْمُوْزٌ اِالَّذِى عَلَى الْهَمْزِ اشْتَمَلْ
Contoh: قَرَأَ.
b. Pembagianbina’ mahmuz ada 3, yaitu:
1) Mahmuz fa’. Mahmuz fa’ yaitu kalimah yang fa’ fi’ilnya berupa huruf hamzah.
Contoh: أَفَلَ.
2) Mahmuz ain. Mahmuz ain yaitu kalimah yang ain fi’ilnya berupa huruf hamzah.
Contoh: سَأَلَ.
3) Mahmuz lam. Mahmuz lam yaitu kalimah yang lam fi’ilnya berupa huruf hamzah.
Contoh: قَرَأَ.
Catatan:
Bina’ mahmuz tidak bisa diikutkan bina’ sokhih, walaupun sebenarnya hamzah tersebut merupakan huruf sokhih. Dikarenakan
1) Hamazah pada sebagian lafadz akan mengalami proses pengi’lalan.
Contoh: إِيْمَانًا اسله إِئْمَانًا.
2) Hamzah terkadang bisa dibuang atau juga diringankan.
Contoh: كُلْ اصله أُكُلْ.
3) Hamzah serupa dengan huruf ilat.
c. Hukum bina’ mahmuz seperti hukum bina’ sohih, didalam seluruh pentasrifannya. Dikarenakan hamzah menurut ulama’ sorof merupakan huruf sohih yang bisa menerima semua harokat. Akan tetapi jika hamzah tidak berada dipermulaan, hamzah akan mengalami takhfif (diringankan), adakalanya dengan mengganti alif, atau adakalanya yang diganti wawu. Itulah mengapa bina’ mahmuz dimasukan dalam bina’ ghoiru assalim. Hamzah mengalami pentakhfifan dikarenakan hamzah merupakan huruf yang berat dan makhrojnya yang paling jauh dibandingkan makhrojnya huruf-huruf yang lain.
d. Pembuatan masdhar mim dari bina’ mahmuz 
1) di baca fathah pada ‘ain dan lam fi’ilnya bila berupa fi’il tsulasi mujarod.
2) isim zaman dan isim makan pada dari bina’ mahmuz sama dengan masdar mim.
Contoh:مَسْأَلٌ .
e. Pembuatan masdar mim dari selain fi’il tsulasi mujarod.
1) Mim dari masdharnya di baca dumah.
2) Min fi’ilnya di baca fathah.
مِثْلَ مُضَارِعٍ لَهَا قَدْ جُهِلَا وَمَا عَدَا الثُّلَاثِ كُلًّا اِجْعَلَا
Contoh: (masdhar mim) مُفْعَلًا.
(isim zaman makan) مُفْعَلٌ.
f. Cara pembuatan isim fa’il dari bina’ mahmuz.
1) Di baca dumah mimnya 
2) Di baca kasroh ‘ain fi’ilnya isim fa’il.
Contoh: (sulasi mazid) مُفْعِلٌ.
(ruba’i) مُفَعْلِلٌ.
عَيْنًا وَأَوَّلٌ لَهَا مِيْمًا يَصِرْ كَذَااسْمُ مَفْعُوْلٍ وَفَاعِلٍ كُسِرْ
Tanbih.
1. Cara penulisan hamzah.
a. Diawal kalimah atau fa’ fi’il.
Jika hamzah berda di fa’ fi’il atau diawal kalimah, maka secara muthlaq hamzah ditulis menggunakan alif, dikarenakan ringannya alif ketika memulai untuk meletakkan harokat. Baik berharokat fathah, dhummah, atau kasroh.
Contoh: أَبٌ, أُمٌ, إِبْنٌ.
b. Ditengah kalimah atau di’ain fi’il.
Jika hamzah ditengah kalimah, maka penulisannya dibagi menjadi 2.
1) Jika hamzah tidak berharokat, maka ditulis menggunakan huruf  ilat yang sesuai dengan harokat sebelum hamzah.
a) Jika sebelum hamzah berharokat fathah maka ditulis dengan alif.
Contoh: ذَأْبٌ.
b) Jika sebelum hamzah berharokat dhummah, maka ditulis menggunakan wawu.
Contoh: لُؤْمٌ.
c) Jika sebelum hamzah berharokat kasroh, maka ditulis dengan ya’.
Contoh: دِئْبٌ.
2) Jika hamzah berharokat, maka ditulis menggunakan huruf ilat yang sesuai harokat hamzah.
a) Jika harokat hamzah berupa fathah, maka ditulis dengan alif.
Contoh: سَأَلَ.
b) Jika harokatnya hamzah berupa dhummah, maka ditulis dengan wawu.
Contoh: لَؤُمَ.
c) Jika harokatnya hamzah berupa kasroh, maka ditulis dengan ya’.
Contoh: سَئِمٌ.
Hal ini mengecualikan jika hamzah berharokat fathah  dan terletak setelah harokat dhummah atau kasroh, maka ditulis dengan huruf ilat yang sesuai dengan harokat sebelumnya. Yaitu:
i. Jika sebelumnya berharokat dhummah, maka ditulis dengan wawu.
Contoh: سُؤَالٌ.
ii. Jika sebelumnya berharokat kasroh, maka ditulis dengan ya’.
Contoh: دِئَابٌ.
c. Diakhir kalimah.
Jika hamzah berada diakhir kalimah, maka cara penulisannya dibagi menjadi 3.
1) Jika huruf sebelumnya tidak berharokat (sukun), maka penulisannya menggunakan hamzah.
Contoh: دَرْءٌ, جُزْءٌ, رِدْءٌ.
2) Jika huruf sebelum hamzah berharokat, maka ditulis dengan huruf ilat yang sesuai dengan harokat sebelum hamzah.
a) Jika sebelum hamzah berharokat fathah, maka ditulis dengan alif.
Contoh: نَشَأَ.
b) Jika sebelum hamzah berharokat dhummah, maka ditulis dengan wawu.
Contoh: طَرُؤَ.
c) Jika sebelum hamzah berharokat kasroh, maka ditulis dengan ya’.
Contoh: فَتِئَ.
3) Jika bertemu ta’ marbutoh, maka cara penulisannya menjadi 3 bagian.
a) Ditulis dengan alif. Jika hamzah terletak setelah huruf sohih yang mati.
Contoh: نَشْأَةٌ.
b) Ditulis dengan ya’. Jika huruf sebelum hamzah berupa huruf ilat (ya’).
Contoh: بَرِيْئَةٌ.
c) Ditulis dengan hamzah. Jika huruf sebelum hamzah berupa huruf ilat (wawu/alif).
Contoh: مُرُوْءَةٌ, قِرَاْءَةٌ.
2. Hamzah washol.
Hamzah washol adalah hamzah yang di gunakan sebab huruf awal kalimah yang tidak bisa di baca (berharokat sukun).
Pembacaan hamzah wasol dalam hukum asal sebenarnya hanya di baca kasroh (ketika berada pada awal kalam).Untuk hamzah wasol yang di baca fathah atau dhumah hanya sebuah cabangan.Untuk hamzah wasol yang di baca sukun ini bertempat pada
a. Hamzahnya fi’il amar إِضْرِبْ.
b. Seluruh wazan fi’il ruba’i atau fi’il tsulasi mazid yang di awali dengan hamzah kecuali wazan اَفْعَلَ.
c. Hamzah pada lafad 
إِسْتٌ إِسْمٌ إِثْنَتَيْنِ إِمْرَأَةٍ إِمْرِئٍ اِثْنَيْنِ إِبْنَةٌ إِبْنٌ إِبْنِمِ
Untuk hamzah wasol yang di baca fathah beertempat pada lafadz أَلْ, أَيْمُنٍ.Untuk hamzah wasol yang di baca dhumah bertempat pada
a. Fi’il amar dari tsulasi mujarod yang ‘ain fi’ilnya di baca dhumah, dikarenakan disamakan dengan ain fi’il.
Contoh: اُحْسُنْ.
Catatan:
1. Asal hamzah lafadz  أَيْمُنٍ  (jamak taksir(.
Hamzah yang terdapat pada lafadz أَيْمُنٍ adalah hamzah kotok akan tetapi kemudian di jadikan hamzah washol di karenakan likasrotil isti’mal dan pada asal hukumnya tidak ada yang di baca kasroh.
2. Hamzah boleh di ganti ya’ atau alif apabila
a) Hamzah menyandang harokat sukun.
Contoh: يَاكُلُ اصه يَأْكُلُ.
b) Disesuakan harokat sebelum hamzah.
Contoh:آثِرٌ اصله أَأْثِرٌ.
Pengecualian.
1. Jika hamzah menyandang harokat walaupun jatuh setelah huruf yang berharokat fathah, kasroh, atau dhumah maka tetap tidak boleh di ganti.
2. Lafad مُرْ , كُلْ, خُذْ adalah lafad yang hamzah fa’ fi’ilnya di buang dengan alasan likasrotil isti’mal.
3. dalam kitab amtsilatu at-tasrifiyyah dikatakan bahwa ketika hamzah berharokat sukun jatuh setelah huruf berharokat dhumah maka di ganti wawu.
II. Bina’ Ghoiru As-Salim meliputi.
1. Bina’ mitsal.
a. Pengertian bina’ mitsal
i. Bina’ mitsal adalah kalimah fi’il madhi yang awalnya berupa huruf ilat.
فَسَمِّ مُعْتَلًا مِثَالًا كَوُضِحْ فَإِنْ يَكُنْ بِبَعْضِهَا المَاضِي افْتُتِحْ
Contoh: يَسَرَ, وَضَحَ.
Catatan:
Bina’ mitsal bisa masuk kesemua wazan tsulasi mujarrod, kecuali wazan فَعَلَ –  يَفْعُلُ.
ii. Bina’ mitsal adalah kalimah yang fa’ fi’ilnya berupa huruf ilat.
فَسَمِّـهِ الْـمِثَالَ خُذْ نَـحْوَ وُعِــلْ فَـأَوَّلُ الْأَنْــوَاعِ مَــــا فَاءً أُعِـــلْ
Contoh: وَعَدَ, يَسَرَ.
b. Pembagian bina’ mitsal
Bina’ mitsal dibagi menjadi 2.
1) Mitsal wawi. Mitsal wawi adalah kalimah yang fa’ fi’ilnya berupa huruf wawu.
Contoh: وَعَدَ.
2) Mitsal ya’i. Mitsal ya’i adalah kalimah yang fa’ fi’ilnya berupa huruf ya’.
Contoh: يَسَرَ.
c. Hukum bina’ mitsal
1) Hukum bina’ mitsal sama seperti bina’ sokhih, dalam segi
a) Tidak adanya perubahan atau pengi’lalan .
b) Bisa diharokati sepertihalnya bina’ sokhih. Baik itu dhumah, fathah, ataupun kasroh.
Contoh: وَعَدَ, وُعِدَ, وِعْدَةً.
2) Hukum binak mitsal dalam wazan إفْتَعَلَ adalah fa’ fi’il digamti dengan ta’ kemudian diidghomkan. Dengan syarat fa’ fi’il harus berharokat sukun.
أَوْ وَاوًا أَوْثًاصَيِّرَنْ تَا وَادْغِمَنْ وَإِنْ تَـكُنْ فَــا الْاِفْـتِعَالِ يَاسَــكَنْ
Contoh: إِتَّصَلَ اصله إِوْتِصَلَ,  إِتَّسَرَ اصله إِيْتَسَرَ .
d. Hukum fi’il mudhori’ pada bina’ mitsal wawi yang mengikuti wazan يَفْعِلُ.
Fa’ fi’ilnya dibuang. Seperti lafadz: يَعِدُ اصله يَوْعِدُ. Pembuangan wawu dikarenakan sukun berada diantara ya’ yang berharokat fathah dan harokat kasroh. Apabila wawu tidak jatuh setelah ya’ yang berharokat fathah, maka tidak dibuang. Karena   masih dihukumi ringan untuk melafadzkan.
Contoh: مَوْضِعٌ.
Adapun pada lafadz نَعِدُ, أًعِدُ, تَعِدُ fa’ fi’ilnya yang berupa wawu tetap dibuang, dikarenakan disamakan dengan lafadz يَعِدُ.
وَالْوَاوَمِنْ مُضَارِعٍ لَهُ اِتْرَكَـــــةْ
مَـصْدَرِهِ الَّـذِى بِفِعْـلَـةٍ وُزِنْ اِنْ كُسِرَتْ عَيْنٌ لَهُ كَذَاكَ مِنْ
e. Hukum masdhar pada bina’ mitsal wawi.
Bina’ mitsal wawi dalam sighot masdhar yang mengikuti wazan فِعْلَةٌ, fa’ fi’il yang berupa wawu juga harus dibuang.
 اِخْذِفْ وَفِى كَعِدَّةٍ ذَاكَ اطَّرَدْ فَأَمْرٍ اَوْ مُضَارِعٍ مِنْ كَوَعَدْ
Contoh: عِدَةٌ اصله وِعْدَةٌ.

Comments

Popular posts from this blog

PROFIL PONDOK PESANTREN ASSALAFIYYAH AL MAS'UDIYYAH BLATER

PROFIL PONDOK PESANTREN ASSALAFIYYAH AL MAS'UDIYYAH BLATER Sekretariat : Dsn. Blater Ds. Jimbaran Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah Kode Pos 50651 Telp. (0298) 7136379 Hp:081 325 531 090 Email: pondok_blater@gmail.com Website: www.pondoksalaf_blater.org KATA PENGANTAR Ada beberapa ribu pondok salaf bahkan puluhan ribu pondok pesantren yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Dari pondok pesantren yang kecil yang muridnya hanya puluhan santri sampai pondok pesantren yang besar dengan murid mencapai ribuan santri. Setiap pondok pesantren mempunyai ciri khas sendiri-sendiri karena pondok pesantren dibentuk sesuai dengan maziyah dari kyai yang mendirikannya. Podok pesantren merupakan subsyistem tersendiri yang menjadikan kyai sebagai figur central. Seluruh warga pondok ( santri ) merupakan satu kesatuan system. Seluruh kegiatan dan aktifitas pondok pesantren adalah merupakan pelaksanaan aturan-aturan yang mengikat seluruh warga pondo...

SOROF BAGI PEMULA BAB VI : BINA' AJWAF

2. Bina’ ajwaf. a. Pengertian i. Bina’ ajwaf adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ilat (bangsa perut). Contoh: قَالَ اصله قَوَلَ. بِهِ وَإِنْ بِجَوْفِهِ اجْوَفًا عُلِمْ وَنَاقِصًا قُلْ كَغَزَا إِنِ اخْتُتِمْ Bina’ ajwaf ini biasanya tertentu pada tiga bab . Yaitu: 1) فعَل - يفعُل. Contoh: قَالَ – يَقُوْلُ. 2) فعَل - يفعِل. Contoh: بَاعَ – يَبِيْعُ. 3) فعِل - يفعَل. Contoh: خَافَ – يَخَافُ. ii. Bina’ ajwaf adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ilat. Contoh: صَامَ اصله صَوَمَ.(wawu di ganti menjadi alif,karena wawu berharokat  dan harokat sebelumnya berupa fathah). b. Pembagian. Bina’ ajwaf dibagi menjadi 2 1) Ajwafwawi. Bina’ ajwaf wawi adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf wawu. Contoh:قَال اصله قَوَلَ. 2) Ajwaf ya’i. Bina’ ajwaf ya’i adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ya’. Contoh: سَارَ اصله سَيَرَ. Pengi’lalan tersebut dengan dasar: أَلِـفًا اِبْدِلْ بَـعْدَ فَتْحٍ مُتَّصِلْ مِنْ وَاوٍ أَوْ يَاءٍ بِتَحْرِيْك...

NAHWU BAGI PEMULA BAB VI : KALIMAT ISIM YANG DIBACA JER

MAHFUDHOTUL ASMA’ KALIMAT – KALIMAT ISIM YANG DIBACA JER Kalimat isim yang dibaca Jer disebabkan 3 hal : yakni: 1. Menjadi Mudhof Ilaih ( مضاف إليه)   contoh : أركان الإسلامِ 2. Menjadi Jer Majrur : Kalimat yang dibaca jerk arena kemasukan huruf Jer : مررت بزيدٍ 3. Menjadi Salah satu dari Isim Tabi’ (Tabi’ Sekawan) :          a. Menjadi naat yang ma'utnya majur :  مررت بزيدٍ العاقلِ        b. Menjadi athof yang ma'thufnya majrur :مررت بزيدٍ وعمرٍ        c. Menjadi taukid yang muakkadnya majrur : مررت بزيدٍ نفسهِ        d. Menjadi badal yang mubdal minhunya majrur: مررت بزيدِ اخيك