Skip to main content
PERISTIWA SAQIFAH
Setelah wafatnya Rosulluah Saw. Umat islam dilanda kesedihan yang mendalam, namun dibalik kesedihan tersebut, umat islam diliputi oleh sebuah tanda tanya besar mengeni siap sosok yang pantas untuk menggantikan peran Rosulluah, baik dari sahabat Anshor, maupun Muhajirin sama- sama mengklaim diri sebagai klan yang pantas untuk memilih kholifah pengganti Rosulluah.
Hingga puncaknya terjadi pertemuan di kalangan sahabat Anshor yang dilakukan di Saqifah, Bani Sa’idah. Mereka hendak membai’at Sa’ad Bin Ubadah sebagai kholifah pengganti Rosulluah, Abu bakar, yang mengetahui hal tersebut, maka ia segera menyusul sahabat Anshor bersama Umar Bin khottob dan Abu Ubadah Ibnu Jarroh. Bukan karena ingin mengambil kholifah untuk dirinya, melainkan untuk mencegah fitnah dari golongan, ada yang mengatakan ‘’kholifah milik Anshor’’ dan ada pula yang mengtakan “kholifah milik Muhajirin”.
Suasana di Saqifah semakin memanas dengan masing – masing golongan mengeleuarkan argumen untuk mendukung pilihannya. Bahkan ada dari sekelompok sahabat Anshor yang menyerukan orang –orang Anshor untuk mengambil jabatan kholifah dengan jalan kekeraasan. Ada sahabat Muhajirin yang mengeraskan suaranya, mereka menetang keinginan sekelompok Anshor. Bisa dikatakan, para sahabat kehilangan sebagian besar dari kesadaran mereka karena kematian Rosulluah SAW.  menyibukkan diri pada urusan Kholifah, padahal mereka masih berada dalam suasana kedukaan.
Suasana menjadi sedikit meredup ketika Abu bakar  memulai pembicaraannya, abu bakar berpendapat bahwa yang lebih mengutamakan sahabat Muhajirin sabagai kholifah, bukan dari beliau dari golongan Muhajirin, melainkan karena hijrah menempatkan kaum muhajirin sebagai golongan pendahulu yang masuk islam, beliau berdasar pada firman Allah Ta’ala :
والسابقون الأولون من المهاجرىن و الأنصار
‘’ Dan orang –orang yang terdahulu dan permulaan dari kaum muhajirin dan Anshor.’’ (QS. Ath Thaubah : 100)
Kemudian, ia lebih mengutamakan kaum Muhajirin dalam khilafah, juga karena orang-orang Anshor telah menginginkan suatu hal yang menurut kebisaan Rosulluah Saw. Tidak memberikannya pada siapa yang memintanya. Apalagi berhubungan denga Al wilayah (kepemimpinan). Abu bakar teringat hari dimana Al Abbas, paman Nabi, meminta kepada Nabi Saw. Untuk mengangkatnya sebagai pemimpin, maka Nabi  Saw. Menjawab seraya berkata :
انا والله لا نولى هذا الأمر أحدا ىسأله او أحدا ىحرص علىه
“ Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak memberikan urusan ini kepada seseorang yang memintanya atau seseoran g yang menginginkannya.”
Hal itu di sebabkan karena tanggung – jawab pemerintahan adalah hutang bukan pemberian, pengorbanan bukan penyucian.sehingga apabila seseorang enginginkannya berarti ia tidak menghargai tanggung – jawab yang harus dipikulnya, kemudian abu bakar memgang tangan sahabat Umar bin khottob dan Abu ubaidah Ibnu Jarrah dan berkata pada seua orang yang hadir :
“ Aku rela dengan salah satu dari kedua orang ini, umar dan abu ubaidah.”
Tangan gemetar,   Umar seakan – akan kejatuhan bara yang menyala. Abu Ubaidah memejamkan kedua matanya yang menangis dengan rasa malu yang sangat. Maka berteriaklah Umar :
والله لأن أقدم فيضرب عنقي في غير اثم أحب الي من أن أؤمر على قوم فىهم أبو بكر
“ Demi Allah aku lebigh suka dibawa kedepan lalu ditebas leherku tanpa dosa, daripada diangkat, sebagai pemimpin suatu kaum dimana terdapat Abu Bakar’’
Kemudian , umar memegang dan mengangkat tangan kanan Abu Bakar, dan membai’atnya sebagai  kholifah , kemudian diikuti pemuka – pemuka Anshor  untuk mengikuti Umar mebaiat Abu bakar. Seakan –  akan mereka mendapat panggilan dari langit 

Comments

Popular posts from this blog

PROFIL PONDOK PESANTREN ASSALAFIYYAH AL MAS'UDIYYAH BLATER

PROFIL PONDOK PESANTREN ASSALAFIYYAH AL MAS'UDIYYAH BLATER Sekretariat : Dsn. Blater Ds. Jimbaran Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah Kode Pos 50651 Telp. (0298) 7136379 Hp:081 325 531 090 Email: pondok_blater@gmail.com Website: www.pondoksalaf_blater.org KATA PENGANTAR Ada beberapa ribu pondok salaf bahkan puluhan ribu pondok pesantren yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Dari pondok pesantren yang kecil yang muridnya hanya puluhan santri sampai pondok pesantren yang besar dengan murid mencapai ribuan santri. Setiap pondok pesantren mempunyai ciri khas sendiri-sendiri karena pondok pesantren dibentuk sesuai dengan maziyah dari kyai yang mendirikannya. Podok pesantren merupakan subsyistem tersendiri yang menjadikan kyai sebagai figur central. Seluruh warga pondok ( santri ) merupakan satu kesatuan system. Seluruh kegiatan dan aktifitas pondok pesantren adalah merupakan pelaksanaan aturan-aturan yang mengikat seluruh warga pondo...

SOROF BAGI PEMULA BAB VI : BINA' AJWAF

2. Bina’ ajwaf. a. Pengertian i. Bina’ ajwaf adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ilat (bangsa perut). Contoh: قَالَ اصله قَوَلَ. بِهِ وَإِنْ بِجَوْفِهِ اجْوَفًا عُلِمْ وَنَاقِصًا قُلْ كَغَزَا إِنِ اخْتُتِمْ Bina’ ajwaf ini biasanya tertentu pada tiga bab . Yaitu: 1) فعَل - يفعُل. Contoh: قَالَ – يَقُوْلُ. 2) فعَل - يفعِل. Contoh: بَاعَ – يَبِيْعُ. 3) فعِل - يفعَل. Contoh: خَافَ – يَخَافُ. ii. Bina’ ajwaf adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ilat. Contoh: صَامَ اصله صَوَمَ.(wawu di ganti menjadi alif,karena wawu berharokat  dan harokat sebelumnya berupa fathah). b. Pembagian. Bina’ ajwaf dibagi menjadi 2 1) Ajwafwawi. Bina’ ajwaf wawi adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf wawu. Contoh:قَال اصله قَوَلَ. 2) Ajwaf ya’i. Bina’ ajwaf ya’i adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ya’. Contoh: سَارَ اصله سَيَرَ. Pengi’lalan tersebut dengan dasar: أَلِـفًا اِبْدِلْ بَـعْدَ فَتْحٍ مُتَّصِلْ مِنْ وَاوٍ أَوْ يَاءٍ بِتَحْرِيْك...

NAHWU BAGI PEMULA BAB VI : KALIMAT ISIM YANG DIBACA JER

MAHFUDHOTUL ASMA’ KALIMAT – KALIMAT ISIM YANG DIBACA JER Kalimat isim yang dibaca Jer disebabkan 3 hal : yakni: 1. Menjadi Mudhof Ilaih ( مضاف إليه)   contoh : أركان الإسلامِ 2. Menjadi Jer Majrur : Kalimat yang dibaca jerk arena kemasukan huruf Jer : مررت بزيدٍ 3. Menjadi Salah satu dari Isim Tabi’ (Tabi’ Sekawan) :          a. Menjadi naat yang ma'utnya majur :  مررت بزيدٍ العاقلِ        b. Menjadi athof yang ma'thufnya majrur :مررت بزيدٍ وعمرٍ        c. Menjadi taukid yang muakkadnya majrur : مررت بزيدٍ نفسهِ        d. Menjadi badal yang mubdal minhunya majrur: مررت بزيدِ اخيك