Skip to main content

SOROF BAGI PEMULA : BAB V : BINA' MITSAL

BINA' MISTAL
a.    Pengertian bina’ mitsal
      i.     Bina’ mitsal adalah kalimah fi’il madhi yang awalnya berupa huruf ilat.
فَسَمِّ مُعْتَلًا مِثَالًا كَوُضِحْ[1]

فَإِنْ يَكُنْ بِبَعْضِهَا المَاضِي افْتُتِحْ
Contoh: يَسَرَ, وَضَحَ.
Catatan:
Bina’ mitsal bisa masuk kesemua wazan tsulasi mujarrod, kecuali wazan فَعَلَ   يَفْعُلُ.
    ii.     Bina’ mitsal adalah kalimah yang fa’ fi’ilnya berupa huruf ilat.
فَسَمِّـهِ الْـمِثَالَ خُذْ نَـحْوَ وُعِــلْ[2]

فَـأَوَّلُ الْأَنْــوَاعِ مَــــا فَاءً أُعِـــلْ
Contoh: وَعَدَ, يَسَرَ.
b.    Pembagian bina’ mitsal
Bina’ mitsal dibagi menjadi 2.
1)   Mitsal wawi. Mitsal wawi adalah kalimah yang fa’ fi’ilnya berupa huruf wawu.
Contoh: وَعَدَ.
2)   Mitsal ya’i. Mitsal ya’i adalah kalimah yang fa’ fi’ilnya berupa huruf ya’.
Contoh: يَسَرَ.
c.    Hukum bina’ mitsal
1)   Hukum bina’ mitsal sama seperti bina’ sokhih, dalam segi
a)    Tidak adanya perubahan atau pengi’lalan[3].
b)   Bisa diharokati sepertihalnya bina’ sokhih. Baik itu dhumah, fathah, ataupun kasroh.
Contoh: وَعَدَ, وُعِدَ, وِعْدَةً.
2)   Hukum binak mitsal dalam wazan إفْتَعَلَ adalah fa’ fi’il digamti dengan ta’ kemudian diidghomkan. Dengan syarat fa’ fi’il harus berharokat sukun.
أَوْ وَاوًا أَوْثًاصَيِّرَنْ تَا وَادْغِمَنْ[4]

وَإِنْ تَـكُنْ فَــا الْاِفْـتِعَالِ يَاسَــكَنْ
Contoh: إِتَّصَلَ اصله إِوْتِصَلَ,  إِتَّسَرَ اصله إِيْتَسَرَ[5].
d.   Hukum fi’il mudhori’ pada bina’ mitsal wawi yang mengikuti wazan يَفْعِلُ.
Fa’ fi’ilnya dibuang. Seperti lafadz: يَعِدُ اصله يَوْعِدُ. Pembuangan wawu dikarenakan sukun berada diantara ya’ yang berharokat fathah dan harokat kasroh. Apabila wawu tidak jatuh setelah ya’ yang berharokat fathah, maka tidak dibuang. Karena   masih dihukumi ringan untuk melafadzkan.
Contoh: مَوْضِعٌ.
     Adapun pada lafadz نَعِدُ, أًعِدُ, تَعِدُ fa’ fi’ilnya yang berupa wawu tetap dibuang, dikarenakan disamakan dengan lafadz يَعِدُ.
وَالْوَاوَمِنْ مُضَارِعٍ لَهُ اِتْرَكَـــــةْ


مَـصْدَرِهِ الَّـذِى بِفِعْـلَـةٍ وُزِنْ[6]

اِنْ كُسِرَتْ عَيْنٌ لَهُ كَذَاكَ مِنْ
e.    Hukum masdhar pada bina’ mitsal wawi.
     Bina’ mitsal wawi dalam sighot masdhar yang mengikuti wazan فِعْلَةٌ, fa’ fi’il yang berupa wawu juga harus dibuang.
[7]اِخْذِفْ وَفِى كَعِدَّةٍ ذَاكَ اطَّرَدْ

فَأَمْرٍ اَوْ مُضَارِعٍ مِنْ كَوَعَدْ
Contoh: عِدَةٌ اصله وِعْدَةٌ.


[1] Al-Maqsud hal.18
[2]Al-Qowa’id As-Shorfiyyah hal.04
[3]Pengi’lalan adakalanya dengan
قلب    yaitu membalik
ابدل   yaitu mengganti. Mengganti ada 2 yaitu mengganti manjadi alif, dan mengganti menjadi ya’
نقل    yaitu memindah. Memindah ada 2 yaitu memindah harokat, dan memindah huruf
حذف yaitu membuang
[4] Al-Maqsud hal.15
[5]di tambah lagi ketika fa’ fi’il berupa huruf tsa’ dan berharokat sukun hukumnya juga sama.
Contoh: إِتَّغَرَاصلهإِثْتَغَرَ
[6]Al-Qowa’id As-Shorfiyyah hal.4
[7]Al-Qowa’id As-Shorfiyyah hal.20

Comments

Popular posts from this blog

PROFIL PONDOK PESANTREN ASSALAFIYYAH AL MAS'UDIYYAH BLATER

PROFIL PONDOK PESANTREN ASSALAFIYYAH AL MAS'UDIYYAH BLATER Sekretariat : Dsn. Blater Ds. Jimbaran Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah Kode Pos 50651 Telp. (0298) 7136379 Hp:081 325 531 090 Email: pondok_blater@gmail.com Website: www.pondoksalaf_blater.org KATA PENGANTAR Ada beberapa ribu pondok salaf bahkan puluhan ribu pondok pesantren yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Dari pondok pesantren yang kecil yang muridnya hanya puluhan santri sampai pondok pesantren yang besar dengan murid mencapai ribuan santri. Setiap pondok pesantren mempunyai ciri khas sendiri-sendiri karena pondok pesantren dibentuk sesuai dengan maziyah dari kyai yang mendirikannya. Podok pesantren merupakan subsyistem tersendiri yang menjadikan kyai sebagai figur central. Seluruh warga pondok ( santri ) merupakan satu kesatuan system. Seluruh kegiatan dan aktifitas pondok pesantren adalah merupakan pelaksanaan aturan-aturan yang mengikat seluruh warga pondo...

SOROF BAGI PEMULA BAB VI : BINA' AJWAF

2. Bina’ ajwaf. a. Pengertian i. Bina’ ajwaf adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ilat (bangsa perut). Contoh: قَالَ اصله قَوَلَ. بِهِ وَإِنْ بِجَوْفِهِ اجْوَفًا عُلِمْ وَنَاقِصًا قُلْ كَغَزَا إِنِ اخْتُتِمْ Bina’ ajwaf ini biasanya tertentu pada tiga bab . Yaitu: 1) فعَل - يفعُل. Contoh: قَالَ – يَقُوْلُ. 2) فعَل - يفعِل. Contoh: بَاعَ – يَبِيْعُ. 3) فعِل - يفعَل. Contoh: خَافَ – يَخَافُ. ii. Bina’ ajwaf adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ilat. Contoh: صَامَ اصله صَوَمَ.(wawu di ganti menjadi alif,karena wawu berharokat  dan harokat sebelumnya berupa fathah). b. Pembagian. Bina’ ajwaf dibagi menjadi 2 1) Ajwafwawi. Bina’ ajwaf wawi adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf wawu. Contoh:قَال اصله قَوَلَ. 2) Ajwaf ya’i. Bina’ ajwaf ya’i adalah kalimah yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf ya’. Contoh: سَارَ اصله سَيَرَ. Pengi’lalan tersebut dengan dasar: أَلِـفًا اِبْدِلْ بَـعْدَ فَتْحٍ مُتَّصِلْ مِنْ وَاوٍ أَوْ يَاءٍ بِتَحْرِيْك...

NAHWU BAGI PEMULA BAB VI : KALIMAT ISIM YANG DIBACA JER

MAHFUDHOTUL ASMA’ KALIMAT – KALIMAT ISIM YANG DIBACA JER Kalimat isim yang dibaca Jer disebabkan 3 hal : yakni: 1. Menjadi Mudhof Ilaih ( مضاف إليه)   contoh : أركان الإسلامِ 2. Menjadi Jer Majrur : Kalimat yang dibaca jerk arena kemasukan huruf Jer : مررت بزيدٍ 3. Menjadi Salah satu dari Isim Tabi’ (Tabi’ Sekawan) :          a. Menjadi naat yang ma'utnya majur :  مررت بزيدٍ العاقلِ        b. Menjadi athof yang ma'thufnya majrur :مررت بزيدٍ وعمرٍ        c. Menjadi taukid yang muakkadnya majrur : مررت بزيدٍ نفسهِ        d. Menjadi badal yang mubdal minhunya majrur: مررت بزيدِ اخيك